(Perspektif Spiritual Agama)
Oleh : Tri Budi Marhaen Darmawan
Bencana demi bencana yang terjadi di
bumi pertiwi ini sesungguhnya merupakan tanda peringatan keras Allah
kepada bangsa ini yang secara khusus tertuju kepada elite pimpinan
nasional baik ulama maupun umaro’nya. Untuk tidak mencari kambing hitam
dari segala peristiwa yang terjadi, maka kita semua memahami akan dalil
di dalam manajemen perusahaan (leadership) bahwa : “Tidak ada
bawahan yang salah. Yang ada adalah pimpinan yang salah.” Begitu pula
dalam konteks negara sebagai sebuah perusahaan : “Tidak ada rakyat yang
salah, melainkan pemimpin-nyalah yang salah.”
Untuk memahami tulisan ini dibutuhkan
perenungan yang mendalam. Diawali dengan pemahaman bahwa di dalam
hakekat kehidupan ini “tidak ada yang namanya ‘Kebetulan’.” ‘Kebetulan’
yang terjadi hakekatnya adalah ketetapan yang telah ditetapkan-Nya.
Manusia dengan akalnya yang terbatas hanya bisa saling berkomentar dan
beranalisis dengan berbagai macam teori ilmu pengetahuan tentang suatu
kejadian setelah kejadian itu terjadi. Sebuah bukti bahwa akal
(penalaran) dan ilmu pengetahuan adalah nisbi. Menghadapi bencana yang
terjadi, manusia tidak akan mampu mencegahnya melainkan hanya mampu
menangani akibat-akibatnya. Sangatlah tidak arif dan bijak apabila
setiap bencana yang terjadi ditanggapi dengan statement : “Itu
bukan kutukan dari Allah dan bisa dijelaskan secara ilmiah, serta
janganlah dihubung-hubungkan dengan takhayul.” Pernyataan ini
menggambarkan arogansi penalaran (berpikir ala barat) yang semakin
menjauhkan diri dari Sang Khalik, dan akan selalu menjadi bumerang bagi
kehidupan bangsa ini.
Dengan merenung dan berpikir kita akan
menjadi mawas diri. Terlalu mengandalkan akal bisa menjadikan kita
sesat dan ingkar. Lahir dan batin harus menyatu.
Mari kita renungkan
bersama ayat-ayat berikut ini :
“Katakanlah :
“Kabarkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan
kamu serta menutup hati kamu? Siapakah Tuhan selain Allah yang
mengembalikannya kepadamu?” Perhatikan bagaimana Kami memperlihatkan
tanda-tanda kemudian mereka tetap berpaling.” (QS 6 : 46)
“Aku akan memalingkan
daripada ayat-ayat-Ku orang-orang yang takabur di muka bumi tanpa alasan
yang benar. Dan jika mereka melihat tiap-tiap ayat, mereka tidak
beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada
petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan
kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka
mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka lalai daripadanya.” (QS 7 : 146)
Apakah selama ini kita pernah berpikir
dan merenung mencari jawab atas bencana yang terjadi ? Mengapa tsunami
yang banyak memakan korban jiwa (setara dengan korban bom atom Hiroshima
– Nagasaki) harus terjadi di bumi Aceh (serambi Mekah)? Mengapa sampai
saat ini kita masih dipusingkan dengan Flu Burung yang mewabah dan belum
diketemukan obatnya ? Mengapa di saat yang lain terjadi KKN (kasus
kesurupan nasional) di berbagai kota yang terjadi secara spontan dan
beruntun di tempat-tempat pendidikan dan pabrik rokok ? Mengapa Merapi
harus memuntahkan laharnya dan sempat membingungkan kita semua ? Mengapa
gempa yang meluluhlantakkan pemukiman dan banyak memakan korban jiwa
terjadi di Yogyakarta ? Mengapa terjadi bencana lumpur panas mengandung
gas di Sidoarjo yang sampai saat ini belum bisa teratasi ? Dan deretan
pertanyaan mengapa-mengapa yang lain. Rasa-rasanya satu bencana belum
tuntas teratasi, muncul bencana-bencana yang lain. Apakah dengan
rangkaian kejadian-kejadian itu masih tetap mengeraskan hati kita untuk
tetap berdiri di atas arogansi akal ilmiah kita ? Terlebih lagi di saat
kondisi sosial ekonomi negara ini sudah semakin terpuruk dan memburuk.
Dilihat dari perspektif spiritual,
hakekat segala apa yang terjadi merupakan refleksi atau pantulan cermin
dari bangsa ini yang diwakili oleh pemimpin bangsanya. Secara singkat
dapatlah diurai hakekat dari bencana-bencana besar yang terjadi di bumi
Nusantara ini. Tsunami Aceh yang telah memakan korban jiwa terbesar di
bumi dimana telah diimplementasikan syariat Islam ini merupakan awal
peringatan yang sangat keras, yang menyiratkan telah terjadi
“Pelanggaran Aqidah” pada bangsa ini. Fenomena kerasukan jin/setan
merupakan gambaran apa yang terjadi pada bangsa ini. Setan-setan
korupsi, kekuasaan, keserakahan, kriminal, dan lainnya telah merasuk
pada sebagian besar anak negeri. Korban yang rata-rata perempuan
melambangkan bahwa Ibu Pertiwi sedang marah, menjerit, menangis dan
meronta menyaksikan apa yang terjadi pada bangsa ini. Ibu-ibu rumah
tangga se-antero nusantara pun merasakan hal yang sama menghadapi
tekanan sosial dan ekonomi saat ini. Tempat pendidikan melambangkan
sindiran kepada kaum terdidik yang selalu mendewakan akal. Pabrik rokok
ibarat kerajaan yang mengolah hasil bumi tembakau menjadi rokok sebagai
komoditi terlaris melambangkan kejayaan yang berdiri di atas penderitaan
buruh atau rakyat kecil. Rahmat Allah tidak dibagikan secara adil bagi
kesejahteraan rakyat. Nampaknya, kita memang kurang bersyukur atas
limpahan rahmat yang telah diberikan-Nya.
Aura panas “wedhus gembel” tengah
menyelimuti bangsa ini yang ditunjukkan dengan episode-episode
ketidakpuasan yang menyulut emosi rakyat dalam berbagai konflik
kepentingan. Potret ini dilambangkan dengan muntahnya lahar panas gunung
Merapi. Sementara Merapi masih terus mengancam, secara sontak
Yogyakarta sebagai simbol pusat budaya Kerajaan Mataram digoyang gempa
yang meluluhlantakkan ribuan pemukiman dan banyak memakan korban jiwa.
Secara hakekat peristiwa gempa Yogyakarta yang menghancurkan Bangsal
Traju Emas (ruang penyimpanan pusaka keraton) dan Taman Sari (pemandian
dan tempat pertemuan Raja dengan Kanjeng Ratu Kidul) menyiratkan
memudarnya aura kerajaan sebagai simbol pemerintahan negeri ini.
Ketika bangsa ini masih disibukkan
dalam mengatasi korban gempa Yogyakarta, kesibukan dan kepanikan baru
muncul sebagai dampak meluapnya lumpur panas bercampur gas di Sidoarjo
Jatim yang hingga kini belum dapat teratasi. Lepas dari kesalahan apa
dan siapa penyebab kebocoran dalam eksplorasi sumber gas tersebut,
bencana lumpur panas mengandung gas ini melambangkan kekotoran moral
elite pemimpin bangsa ini yang membawa aura panas dan bau menyengat.
Situasi ini berakibat rakyat kecil selalu menjadi korban.
Hubungan antara manusia dengan alam
senantiasa berubah, seiring perkembangan teknologi, informasi, dan
industrialisasi. Suku-suku di pedalaman, bahkan sampai saat ini masih
melaksanakan ritual-ritual tertentu untuk bersahabat dengan alam.
Mereka, mengambil kayu atau hasil bumi secukupnya. Alam tidak
dieksploitasi sekehendak hatinya. Walaupun suku-suku primitif tersebut
belum tersentuh ajaran agama formal, mereka telah memiliki kesadaran
religius yang baik. Mereka mampu mengembangkan nalurinya bahwa merusak
pohon atau membunuh binatang sembarangan akan mendatangkan bencana.
Kita sebagai bangsa kenyataannya telah
kehilangan kearifan pada alam dan lingkungan. Dengan makin
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu kita akui secara
jujur bahwa atas nama “penalaran dan logika”, secara sadar atau tidak
kita telah mengikis budaya warisan leluhur dalam mengarifi alam dan
lingkungan. Teknologi ujung-ujungnya digunakan untuk menaklukkan alam.
Manusia tidak lagi bergantung pada alam, namun malahan menguasai alam
dengan dilandasi keserakahan.
Secara jujur pula perlu diakui, bangsa
ini khususnya elite pimpinan nasional telah terjebak di alam
materialisme yang penuh tipu daya dan menyesatkan. Alih-alih
menyejahterakan rakyat. Yang terjadi hutang luar negeri-pun makin
membumbung tinggi. Dari total hutang Indonesia sekitar Rp 1.400 triliun,
APBN 2006 yang besarnya Rp 650 triliun, 39% nya hanya untuk membayar
hutang dan bunganya. Sungguh merana anak cucu negeri ini dengan
bebannya.
Nampaknya sebagian besar bangsa ini
telah kehilangan adab. Adab kepada Allah Azza wa Jalla, juga adab kepada
sesama manusia serta alam dan seluruh isinya. Pada masa ini Pancasila
sebagai falsafah hidup bangsa yang adiluhung sekedar menjadi slogan
semata. Para elite pemimpin negeri ini hanya sibuk berkutat pada ranah
politik dan upaya perbaikan ekonomi. Namun sangat ironis, pada
kenyataannya kebijakan pemerintah seringkali menyengsarakan rakyatnya.
Ironis pula, menurut Transperancy International pada tahun 2005
peringkat korupsi Indonesia menempati rangking 137 (25 besar) dari 159
negara di dunia.
Betapa memprihatinkannya melihat
potret situasi carut marut yang terjadi pada bangsa ini. Memang sudah
sejak sekian lama bangsa ini sakit. Ibu
Pertiwi tidak sekedar menangis dan bersedih, akan tetapi mulai
menunjukkan angkaranya. Geram menyaksikan banyak penyimpangan akhlak
yang dilakukan oleh anak negeri ini. Marah melihat polah tingkah
anak bangsa yang makin jauh dari jiwa Pancasila sebagai Pandangan Hidup
yang telah ditegakkan di bumi nusantara ini. Para elite pimpinan bangsa
malah terkesan tidak memberikan teladan yang baik di mata rakyat. Sejak
jaman orba hingga saat ini yang dipertunjukkan hanyalah bagaimana
memenuhi kepentingan diri dan kelompoknya. Jiwa nasionalisme yang
seharusnya tertanam dalam dada seluruh rakyatnya seakan luruh hilang tak
berbekas.
Pada akhirnya kita semua tidak
tersadar bahwa bumi NKRI dimana kita berpijak telah berubah arti menjadi
“Negara Kapling Republik Indonesia” (?). Betapa tidak, aset-aset
strategis dan berharga bumi ini telah jatuh ke tangan asing. Kita lihat
di bumi Papua ada Freeport di sana. Caltex di Dumai. Di Sulawesi ada
Newmont, dan masih banyak lagi. Bahkan akhirnya, Blok Cepu-pun jatuh ke
tangan Exxon. Memprihatinkan memang. Belum lagi terhitung aktivitas
bisnis illegal yang mengeruk aset bumi ini untuk kepentingan asing, baik
perikanan, pertambangan, maupun kehutanan.
Sebagian besar bangsa ini makin jauh
dari Sang Khalik. Agama hanya dijadikan stempel. Ibadah dilakukan
sekedar formalitas belaka. Penghayatan agama belum diimplementasikan
dalam kehidupan sehari-hari. Seakan masing-masing terpisah berada pada
sisi yang berbeda. Bahkan sebagian besar dari kita lupa, padahal sila
“Ketuhanan Yang Maha Esa” telah ditempatkan pada sila pertama, menjadi
yang utama. Ini merupakan wujud kesadaran spiritual tertinggi the founding father’s bangsa ini dalam menempatkan Tuhan sebagai sentral Pandangan Hidup pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sudah saatnya bagi kita semua anak
bangsa melakukan introspeksi dan bangkit menuju kesadaran bahwa kita
sebagai makhluk ciptaan-Nya wajib memiliki rasa rumangsa lan pangrasa
(menyadari) bahwa keberadaan di dunia ini sebagai hamba ciptaan Ilahi,
yang mengemban tugas untuk selalu mengabdi hanya kepada-Nya. Dengan
pengabdian yang hanya kepada-Nya itu, manusia wajib melaksanakan tugas
amanah yang diemban, yaitu menjadi khalifah pembangun peradaban serta
tatanan kehidupan di alam semesta ini, agar kehidupan umat manusia,
makhluk hidup serta alam sekitarnya dapat tenteram, sejahtera, damai,
aman sentosa, sehingga dapat menjadi wahana mencapai kebahagiaan abadi
di alam akhirat kelak (Memayu hayu harjaning Bawana, Memayu hayu harjaning Jagad Traya, Nggayuh kasampurnaning hurip hing Alam Langgeng).
Dengan sikap ketakwaan ini, semua manusia akan merasa sama, yaitu
berorientasi serta merujukkan semua gerak langkah, serta sepak
terjangnya, demi mencapai ridlo Ilahi. Sikap takwa mendasari pembangunan
watak, perilaku, serta akhlak manusia. Sedangkan akhlak manusia akan
menentukan kualitas hidup dan kehidupan.
Bung Karno pernah menulis,
mengingatkan kita pada sebuah seloka dari Ramayana karya pujangga
Valmiki, mengenai cinta dan bakti kepada Janani Janmabhumi – yaitu agar
setiap orang mencintai Tanah Airnya seperti ia mencintai ibu kandungnya
sendiri. Dan cinta Bung Karno terhadap kosmos itu diawali dari Bumi
tempat kakinya berpijak, bumi pertiwi Indonesia yang disapanya dengan
takjub dan hormat sebagai “Ibu.” Pancaran cinta dan kasih sayang yang
murni akan dapat membuka pintu rahmat-Nya. Mencintai sesama berarti mencintai Tuhan, bahkan mencintai alam berarti mencintai Sang Pencipta.
Insya Allah dengan limpahan kasih
sayang anak negeri ini akan membuat Ibu Pertiwi tersenyum sumringah. “Ya
Allah, jauhkan kami anak negeri ini dari seburuk-buruk makhluk-Mu
sebagaimana firman-Mu :
“Sesungguhnya
telah Kami sediakan untuk penghuni neraka dari golongan jin dan
manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk
memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata, tetapi tidak
dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), mereka
mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.
Mereka adalah orang-orang yang lalai”
(Qs 7:179)
Dengan ijin dan ridho Allah SWT,
menjadi tugas kita di masa depan mewujudkan Indonesia Raya sebagai
“Negara Kaya Rahmat Ilahi” (NKRI) demi kesejahteraan seluruh rakyatnya.
Insya Allah, dengan pendekatan spiritual murni segala kejadian yang
terjadi di bumi Nusantara ini dapat diketahui jawabannya dan solusinya. “Sakbeja-bejane kang lali, luwih beja kang eling lawan waspada”.
* * *
Sumber: Bang Nurahmad Blog
Signature by
DAENG LIRA |