Senin, 14 Juli 2014

Radio Anti Jamming Militer

PT LEN MENCIPTAKAN RADIO KOMUNIKASI BUAT MILITER


“TES… satu, dua, tiga… satu, dua, tiga… dikopi,” ucap Sri Yuniardi, peneliti alat komunikasi militer dari PT LEN Industri. Ia tengah mempraktikkan bagaimana cara kerja produk inovasi Manpack Alkom FISCOR-100. Alat komunikasi militer buatan PT LEN Industri (Persero) itu merupakan salah satu inovasi unggulan PT LEN yang pernah memperoleh penghargaan Anugerah Rintisan Teknologi Industri 2009 dari pemerintah. Manpack Alkom FISCOR-100 dikembangkan sejak 2001 oleh PT LEN Industri. Nama ‘100’ diambil dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-100 pada 2008. Tujuannya untuk membangkitkan industri berbasis teknologi dalam negeri.
Bermula dari keinginan TNI untuk mengembangkan dan memproduksi alat komunikasi militer buatan dalam negeri. Pada periode 2001-2003, Puslitbang TNI bekerja sama dengan PT LEN Industri dalam program RUK Kementerian Riset dan Teknologi untuk mengembangkan alat komunikasi radio antisadap dan anti-jamming.
Alat komunikasi militer memiliki fungsi sangat strategis karena membantu keberhasilan operasi militer dan membantu komunikasi pasukan yang berada di lapangan dengan unit-unit lainnya di tempat berbeda. Hasilnya? Para periset PT LEN Industri berhasil menciptakan prototipe alat komunikasi VHF FH dengan kecepatan hopping 1 hope/sec. Kemudian pada 2007 PT LEN Industri berhasil melakukan rancang bangun mandiri alat komunikasi Manpack HF Spread Spectrum Frequency Hopping, dengan kecepatan hopping 5 hope/sec. Alat tersebut terus disempurnakan hingga 2008 agar kecepatan hopping bisa mencapai 5, 10, 20, dan 50 hope/sec dan random hop speed yang tidak dimiliki alat komunikasi militer lainnya.
Antisadap
Di kelas HF inilah alat komunikasi FISCOR-100 menjadi yang tercepat. Manpack Alkom FISCOR-100 beroperasi pada rentang frekuensi 2 Mhz hingga 3 Mhz dengan 256 channel, dan kebutuhan pasokan tenaga 12 Vdc-24 Vdc. Peralatan ini bisa digunakan untuk komunikasi pada level peleton hingga batalion.
Menurut Sri Yuniardi, alat komunikasi militer berupa radio memang harus bebas jamming dan tidak bisa disadap. Karena itu, frekuensi yang diambil ialah frekuensi yang tidak dipakai. “Radio militer bekerja di trek 2 Mhz sampai 3 Mhz. Bisa juga sekelas 7 Mhz. Di dunia militer, para ahli frekuensi radio akan mengambil gelombang radio yang kosong. Ini bedanya dengan radio komersial. Setiap kali on air, radio komersial akan didengar banyak orang, sedangkan di militer tidak,” terangnya. Frekuensi radio ini menjadi jantung pada alat komunikasi FISCOR-100.
Dua perusahaan asing dari Australia dan Prancis pernah bekerja sama dengan PT LEN Industri untuk pengembangan alat komunikasi militer ini. Namun, kemudian PT LEN Industri mengembangkan alat komunikasi sendiri dengan mengombinasikan keunggulan teknologi alat komunikasi produksi kedua negara mitra tersebut.
Para periset banyak belajar dari pengalaman kedua negera dalam mengembangkan alat komunikasi militer. “Kami belajar membuat alat-alat komunikasi militer dengan Q-Mac Australia dan Thales Prancis. Thales merupakan industri komunikasi terbesar di dunia saat ini. Dan yang paling rumit ialah masalah frekuensi. Ahli frekuensi di Indonesia minim. Mau tidak mau, kita semua harus belajar masalah frekuensi dan enkripsi,” ungkap Yuniardi.
Dengan kombinasi ini tentunya produk PT LEN Industri jauh lebih unggul. Teknologi tersebut memiliki kandungan lokal 85%, sedangkan untuk komponen handset, elektronik, dan konektor masih diimpor. Komponen dalam negeri dengan sistem komunikasi yang dirancang secara khusus sangat menguntungkan bagi TNI. Sebab, sistem komunikasi buatan luar negeri belum tentu aman karena akan dirancang untuk kepentingan negara pembuat. Untuk itu, sistem keamanan dalam komunikasi dirancang khusus dan hanya pemakaianya yang tahu. Alat tersebut bisa didesain sesuai keinginan.
Pembuktian antisadap ini diperlihatkan saat uji coba. Ketika alat tersebut dipakai berkomunikasi, di frekuensi biasa hanya terdengar suara gelombang radio tanpa ada suara. Kadang bunyinya agak bising, tapi tanpa ada yang bercakap-cakap. Padahal di balik itu sedang terjadi komunikasi antarpemakai. Hal tersebut menunjukkan alat komunikasi itu telah dilengkapi comsee sehingga tidak muncul percakapan di udara layaknya penyiar radio. Suara yang keluar dari percakapan antarpihak di lapangan telah dienkripsi sehingga mempersulit orang atau pihak musuh melakukan penyadapan.
“Intinya suara dikacaukan,” ujar Yuniardi. Sebetulnya komunikasi bisa bocor ke sipil atau pihak musuh apabila kunci frekuensinya sama. Untuk mencegah kebocoran informasi, perlindungan atau keamanan komunikasi harus ditangani oleh tiap negara. Termasuk saluran telepon presiden, lembaga-lembaga strategis, dan agen rahasia di negara-negara maju telah dienkripsi dengan kode-kode khusus. Oleh karena itu, bila produk komunikasi militer masih mengandalkan impor, dikhawatirkan rahasia negara bisa bocor ke negara lain lewat penyadapan alat komunikasi.
Uji coba alat komunikasi tersebut sudah dilakukan dari Bandung ke Surabaya dengan jarak 400 km. Dalam uji coba itu terbukti radio komunikasi militer ini aman dari penyadapan dan jamming. Kecanggihan alat tersebut diganjar penghargaan Upakarti, Desain Terbaik, dan Kreasi Prima. Peralatan berbentuk kotak berwarna hijau tentara ini memiliki berat 5 kg dengan baterai yang tahan dipasang selama 24 jam. Baterai yang dipakai bisa diisi ulang dengan memakai energi solar cell. Satu amphere solar cell bisa mengisi baterai selama 1 jam.PT LEN Industri kini sedang melakukan perbaikan- perbaikan, terutama untuk berat radio dan antene. Menurut Yuniardi, saat ini bobot radio masih terlalu berat. “Kalau bisa, di bawah 5 kg, yakni dengan cara mengurangi konsumsi daya baterai. Kemudian antenanya juga kurang efisien.” Antena HF yang menggunakan frekuensi rendah membutuhkan antena panjang untuk bisa menerima frekuensi yang bagus. PT LEN Industri saat ini sedang mengembangkan Manpack FISCOR-100 dari sistem analog menuju digital. Risetnya sudah dimulai sekarang ini.



Signature by           
                      DAENG LIRA