KOMUNIKASI YANG BAIK MEMINIMALISIR BENTROKAN

Hoegeng

Tidak selamanya TNI dan Polri bermusuhan sampai terlibat bentrok. Adakalanya, muncul contoh anggun bagaimana tentara dan polisi bahu-membahu memberantas kebatilan, seperti ditunjukkan polisi Hoegeng Iman Santosa dan tentara Maludin Simbolon.

Saat itu Hoegeng menjabat sebagai Kadit Reskrim Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Sumut).Pernah suatu ketika tim Hoegeng menggerebek sebuah arena perjudian. Ternyata, arena judi itu dibekingi oleh tentara. Kalau ada tentara yang tertangkap, maka Hoegeng perlu melakukan koordinasi dengan komandan satuannya untuk menentukan tindakan hukum. Biasanya, yang bersalah akan diajukan ke Mahkamah Militer.

Tidak ada kesulitan bagi Hoegeng dalam menangani tentara yang terlibat penyelundupan dan perjudian. Salah satu faktornya, mitra Hoegeng yaitu Panglima TT (Kodam) Bukit Barisan Kolonel Maludin Simbolon dikenal sebagai figur bersih dan antikoruptor.

"Tidak ada kesulitan saya dalam menangani oknum tentara yang terlibat penyelundukan dan perjudian, karena sosok pimpinan militer di Sumut dikenal antikorupsi dan antikoruptor," tulis Hoegeng dikutip dari biografi Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan karya Ramadhan KH dan Abrar Yusra terbitan Pustaka Sinar Harapan.

Di kalangan pejabat di Sumut, baik polisi dan TNI serta kejaksaan ada forum bersama yang secara rutin menggelar pertemuan. Anggota forum ini antara lain Kolonel Maludin Simbolon, Letkol Djamin Ginting (pengganti Simbolon sebagai Panglima Bukit Barisan), Mayor Boyke Nainggolan, dan Hoegeng sendiri. Menurut Hoegeng komunikasi rutin seperti ini penting sekali untuk membuat konsolidasi aparat kompak!

Berkaca pada penyerbuan Markas Polres Ogan Komering Ulu di Sumatera Selatan oleh anggota TNI dari Yon Armed 15, banyak yang menilai akibat komunikasi buruk TNI/Polri.

Wakil Ketua Komisi III DPR, Tjatur Sapto Edy menilai, peristiwa itu terjadi akibat tidak adanya komunikasi yang baik di tingkat atas maupun bawah TNI dan Kepolisian.

pak Jokowi dan pak Hoegeng ada kemiripan


sumber : iniunic Blog



Signature by           
                      DAENG LIRA

Inspirasi dari Perampokan



Siapa Perampok Sebenarnya?

Ini mungkin hanya skenario. Tapi lumayan jadi trending topic di beberapa forum luar, karena mengandung pelajaran, sekaligus sindiran tentang betapa korupsi sudah menjalar ke berbagai bidang. Ok, begini ceritanya...

Dalam sebuah perampokan bank, para perampok mengingatkan semua sandera, "Jangan bergerak. Kehilangan uang di bank ini nggak akan berpengaruh banyak buat kalian. Serahkan saja pada kami, lebih baik sayangilah nyawa kalian!"

Perampokan di Medan

 
Ini bukan sekadar ancaman. Ini disebut Merubah Paradigma. Cara berpikir otak akan mudah terpengaruh dalam tekanan tertentu.

Ketika teller wanita merasa ketakutan yang berlebihan, perampok berkata, "Tenang saja nona. Isi saja semua kantong dengan uang. Kami ke sini untuk merampok, bukan memperkosa."

Ini disebut Profesionalitas. Para perampok bank hanya bertujuan menjarah semua uang dan benda berharga. Tujuan mereka tidak boleh teralihkan, karena bisa mengacaukan misi.

Begitu para perampok kabur dan kembali ke markas. Salah satu anggota - baru lulus dari pendidikan tinggi - meminta kepada pimpinan mereka (yang hanya lulusan SD) agar menghitung uang segera dan dibagikan merata.
Sang pimpinan yang lulusan SD itu menjawab, "Tenang kawan, jangan bodoh. Menghitung dan membagi-bagi sekarang sangat bahaya. Kita endapkan dulu, lihat berita di tivi agar tahu situasi."

Ini disebut Pengalaman. Di jaman sekarang, pengalaman lebih penting daripada selembar kertas ijazah.

 
Sementara itu.... kondisi di bank setelah dirampok.

Manager bank melaporkan pada pimpinan pusat agar segera memberi rincian kerugian pada polisi. Namun pimpinan pusat memberi perintah balik, "Tambahkan 150 juta dalam laporan!"

Manager bank pun menambahkan 170 juta! Artinya 20 juta masuk ke kantong pribadinya.

Hari berikutnya, reporter tivi mengumumkan berita, "Dalam kasus perampokan Bank A kemarin, pihak yang berwajib merilis kabar pers bahwa kerugian ditaksir mencapai 200 juta."
Perampok bank CIMB

  
Para perampok yang menyaksikan berita tivi kegirangan. Mereka pun mulai menghitung hasil jarahan. Ternyata hasilnya hanya 30 juta. Sang pemimpin pun geram, "Sialan! Kita yang bekerja bertaruh nyawa tapi pihak Bank tetap untung besar. Memang lebih baik sekolah sampai sarjana!"

Inilah yang disebut Pengetahuan Lebih Berharga dibanding Harta Karun.

Sementara pihak bank tertawa puas. Kerugian mereka diganti pihak asuransi. Pasar saham aman berkat peristiwa perampokan. Manager bank pun senang karena rekeningnya bertambah kembung.

Inilah yang disebut Kejahatan Kerah Putih.

Nah, jadi pertanyaanya: Siapa perampok sebenarnya, dan bagaimana paradoks dalam sistem pendidikan yang terjadi di dunia nyata?



Sumber: ApaKabarDunia




Signature by           
                      DAENG LIRA

Ini Budi Ini Hutang Budi





 Budi, Jasa, dan si Lamporo

Si Lamporo temannya si Budi
Lamporo, seorang kenalan, warga Bogor. Saat berkunjung ke Sulawesi beberapa tahun lalu, menceritakan pengalaman perjalanannya. Katanya, 'Amat mengesankan.' Tidak ada pengalaman pahit yang diperoleh selama kunjungannya ke berbagai tempat wisata, mulai dari Makassar, Gowa, dan Bantaeng, kecuali di Jeneponto.

Satu pengalaman yang kurang berkenan di hatinya ketika di Jeneponto, saat ada orang yang berniat membantunya, namun menurut penilaiannya ada maksud 'menipu'. Untungnya Lamporo cepat tanggap. Tidak terjerat oleh niat jahat tersebut.

Sebelum ke Sulawesi, Lamporo sempat mampir ke Bali selama 2 hari. Tinggal di hotel berbintang, service memuaskan. Tentu saja dia harus bayar untuk semua itu. Paket wisata selama di Bali membuatnya terhibur meski mahal harganya. Jasa wisata memang tidak ada yang gratis, demikian akunya.

Ketika Lamporo di Malino, dia bertemu dengan seorang sopir asal Tombolo-Gowa yang sudah lama bermukim di sana. Sopir tersebut memperlakukannya begitu baik. Dia bersedia mengantarkan Lamporo hingga ke tempat tujuannya.

Sang sopir marah ketika Lamporo menyodorkan sejumlah Uang sebagai imbalan jasanya. Lamporo agak heran dengan perlakuan si sopir, sebuah sikap yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, bahwa di Malino, negara super komersial ini, ternyata bisa menemui orang yang begitu tulus membantu, tanpa pamrih, atau minta balasan.

***

Budi, jasa baik, bantuan, pertolongan, atau apapun namanya yang mengarah kepada kebaikan dalam kehidupan ini, layaknya sebuah roda yang selalu bergulir, menyertai perbuatan-perbuatan kita, komersial atau sukarela.

Budi baik atau jasa baik dalam kamus ekonomi tidak sama pengertiannya. Budi baik lebih condong kepada suatu perbuatan yang murni dilakukan tanpa pamrih. Sedangkan jasa lebih bersifat komersial.

Pengalaman Lamporo di atas menarik. Di Malino, Lamporo mendapatkan jasa tanpa bayar, sekaligus budi baik dari si sopir Pete-pete. Namun ketika dia di Bali, tinggal di hotel dan harus bayar untuk kepentingan wisatanya, didapatkannya jasa (service) karena Lamporo harus membayar semua 'kebaikan' yang diterimanya. Sedangkan pengalamannya di Jeneponto, termasuk kategori jasa atau budi 'baik' yang diberikan dengan pamrih, malah lebih buruk daripada itu, karena terbersit niat jahat di dalamnya.

***

Selama hidup sebagai makhluk sosial, kita selalu butuh bantuan dan keberadaan orang lain, secara langsung ataupun tidak. Meski demikian, ada sementara orang yang berprinsip untuk tidak bergantung sama sekali pada bantuan orang lain. Saya pernah temui, orang-orang yang memang benar-benar memegang prinsip ini dengan 'kaku'nya. Tidak pernah mau memberi, juga tidak pernah bersedia menerima pemberian orang lain.

Prinsip semacam ini, bagi kita yang melandaskan kehidupan sosial dan agama sebagai fondasi kehidupan, tidak ubahnya prinsip 'omong kosong'. Karena, kita nyaris tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan manusia lain.

Andainyapun kita harus tinggal di hutan sendirian misalnya, karena naluri sosial kemanusiaan ini, kita tidak akan pernah mampu berdiri sendiri. Kita akan memaksanakan diri harus berinteraksi dengan makhluk lain di sekitar, yang ada di hutan, kera, harimau, atau gajah.

***

Ta'Bula'nyi, seorang rekan kerja, selama lebih dari 6 tahun ini memutuskan hidup sendiri, kost, di kamarnya. Dia katakan hidup 'sharing' itu serba repot dan membuat posisi dia sebagai individu terbebani secara mental, tidak ada privasi, dan terlalu banyak pertimbangan jika harus melakukan ini dan itu.

Akhirnya, diputuskan untuk mengundurkan diri dari tempat kerja. Merasa tidak betah lagi. Entah mana maksud tidak betahnya, di tempat kerja atau di kamar, kurang jelas. Yang pasti, kesendiriannya menjadi faktor yang cukup berperan dalam pengambilan keputusannya untuk tidak bekerja lagi.

Bagi Ta'Bula'nyi, tinggal bersama orang lain akan bermasalah. Namun, sendirian juga tidak mampu menyelesaikan masalah. Di satu pihak, tinggal bersama orang lain, membuat dia harus melakukan 'kebaikan' ini dan itu, yang cukup merepotkan. Di lain pihak, tidak berbuat baik kepada orang lain, juga menyengsarakan diri sebagai makhluk sosial.

***

Berbuat baik, berbudi baik, berjasa baik, yang bisa kita terima adalah yang sesuai norma masyarakat dan agama, yakni budi baik murni, ikhlas, dan jasa baik dengan imbalan jasa.

Jika ke luar dari keduanya bisa dikatakan keluar dari norma. Alias abu-abu. Artinya, masyarakat umum tidak bisa menerimanya.

Pekerjaan di rumah sakit, hotel, pemandu wisata merupakan contoh pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan jasa yang membutuhkan imbalan jasa dan bisa diterima oleh masyarakat kita.

Menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat atau memberi bantuan sandang dan pangan kepada kaum miskin adalah budi baik yang nilainya mulia dalam kamus agama dan sosial kemasyarakatan.

Namun, menyantuni anak yatim dengan harapan bisa menikmati sebagian dari harta peninggalan orangtua anak tersebut adalah menyimpang.

Hidup kita seringkali dihadapkan kepada dilema, di mana ada orang-orang yang berniat memberikan bantuan, tapi dengan 'catatan' (baca : pamrih).

Di kantor-kantor pemerintahan misalnya, hal ini amat umum terjadi, bahkan membudaya. Seorang kepala tata usaha atau personalia seringkali menunjukkan sikap amat membantu mengurusi kepegawaian karyawan baru, dengan harapan sang karyawan akan memberikan 'sesuatu' kepadanya, sesudah urusan kepegawaian tersebut rampung.

Beberapa teman pernah terjebak dalam 'urusan kepegawaian yang manis' ini. Mereka bilang, “Mana ada orang yang berbuat baik tanpa berharap sesuatu?”

Tidak dipungkiri, kita pernah lihat dan jumpai orang-orang yang ikhlas dalam berbuat kebaikan. Akan tetapi, sepertinya sulit sekali mendapatkan orang yang dengan tulus rela membantu meringankan beban derita orang lain. Jika ada orang yang menawarkan niat baiknya untuk membantu, sebagian orang menolaknya (hati-hati), karena mereka tidak mau terjerat oleh hutang budi ini.

Lain halnya dengan apa yang terjadi pada jamannya Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau. Hutang budi jaman sekarang, adalah fenomena. Rasululah SAW sendiri dalam do'a-do'anya selalu memohon kepada Allah SWT untuk dihindarkan dari hutang-hutang.

Meski secara eksplisit tidak kemukakan persoalan hutang budi ini, kita bisa pahami pengertian yang mendalam di dalamnya. Bahwa hutang budi adalah hutang yang terkadang nilainya jauh lebih besar dibanding hutang uang yang masih bisa diukur nilainya. Coba hitung nilai omongan seseorang yang, misalnya, mengatakan, "Si Fulan tidak akan bisa jadi pegawai negeri di situ, bila tidak saya tolong!"

Perkataan semacam ini sudah tentu amat menyakitkan Si Fulan, sekalipun itu benar. Sikap di atas bisa diartikan menyakiti pemberian yang membatalkan pahala, karena tidak dilandasi dengan rasa ikhlas.

Demikianlah, kita acapkali dihadapkan kepada pemberian-pemberian atau tawaran-tawaran yang kadang membuat kita tidak kuasa menolaknya. Dalam kondisi begini kita 'dipaksa' untuk berhutang budi pada seseorang.

Kita tahu, menolak pemberian orang itu kurang baik. Namun jika diterima, kuatir terjebak dilema di atas.

Oleh karenanya, harus pandai-pandai melihat situasi. Misalnya, pantas tidaknya kita terima tawaran niat baiknya; apakah kita orang yang tepat menerimanya; dalam keadaan bagaimana bantuan tersebut diberikan; apakah kita harus mengembalikannya, dan sebagainya.

Pertimbangan-pertimbangan ini perlu, agar kita tidak gundah juga terhindar dari hutang budi yang kurang pada tempatnya. Kecuali, naluri kita tahu, bahwa niat pemberian tersebut benar-benar ikhlas. Di samping, kita adalah orang yang pantas menerimanya.

Jika tidak, katakan saja, "No. Thanks!" sebagai jawaban yang paling tepat terhadap tawaran tersebut.

Catatan: Nama dan tempat adalah fiktif.



Signature by           
                      DAENG LIRA

KANCA DUSTA


                      Belakangan ini Dunia Perpolitikan seakan menjadi incaran para elit Negeri, mereka seakan melihat Dunia Perpolitikan bak ladang emas sehingga mereka berebutan dan berbondong-bondong hendak terjun ke Dunia Perpolitikan. Meski sekalipun mereka tidak mengerti tentang Politik, bagi mereka berhasil merebut kursi bukan mereka yang mengerti dan menguasai Ilmu Politik. Tetapi mereka yang menguasai dan lihai menjual janji, sehingga mampu membuat hati rakyat melambung penuh harap dengan janji manis yang mereka tawarkan. Ya, begitulah keadaan Dunia Perpolitikan di Bumi Pertiwi beberapa episode belakangan. Kecurangan terjadi di setiap sudut, apapun mereka lakukan untuk mendapatkan angka terbanyak menuju kuasa. Kejujuran menjadi barang usang yang tak laku sama sekali, kebenaranpun diobral namun seorangpun tak hendak meliriknya. Yang populer hanyalah kecurangan, apapun akan dilakukan demi Kursi Kekuasaan yang kelak akan menjamin kepuasan jika mereka berhasil merebutnya dari tangan rakyat.
                           Bagi mereka yang sulit hanyalah merebut kursi itu dari tangan rakyat, namun apabila mereka telah berhasil merebutnya. Maka yang akan menjadi armada pemegang kendali adalah mereka. Rakyat hanya akan gigit jari, menunggu janji yang tak kunjung ditepati. Janji hanya tinggal janji, rakyat selamanya akan tetap menjadi rakyat. Yang suaranya selalu terselip dilipatan angka-angka, “suara kami memang dicatat di kertas, direkam di komputer, diputar lewat pengeras suara. Tapi suara kami selalu dihitung tanpa nomor dan halaman, hingga api suara kami tetap terselip di lipatan angka-angka. Hanya membakar-bakar dada.” (Suara Kami Selalu Terselip Di Lipatan Angka-Angka,Jamal D. Rahman. 2003)
                           Republik yang katanya menganut Sistem Demokrasi ini, yang katanya pemegang kekuasaan tertinggi adalah rakyat. Kedaulatan berada di tangan rakyat. Namun sayang sungguh sayang, rakyat dibuat tak lebih dari Boneka. Yang hanya bisa menurut apa kata Si Empunya. Sembako naik, rakyat hanya bisa mengeluh dan tetap membeli semampunya. BiayaPendidikan mahal, jika ingin anak tetap mengenyam Pendidikan maka berhutang ke sana ke mari untuk tetap dapat membayarnya tak jadi masalah. BBM tak mau ketinggalan di bawah, ia pun naik. Rakyat hanya bisa mengusap dada, ada yang mencoba bersuara. Namun lagi-lagi suaranya disambar Sang Garuda. Inikah arti demokrasi sesungguhnya?
                           Dunia Perpolitikkan memang penuh warna, kursi empuk yang di impor dari Negeri tetangga sungguh sangat menggoda. Sampai-sampai ada yang dibuat terlelap saat mendudukinya. Kemewahan yang sangat luar biasa. Lalu dimana rakyat yang dulu pemilik kursi itu, yang telah memberikan kekuasaan kepada empunya yang baru dengan penuh harap akan janji yang tlah ditawarkan dan berhasil membuat rakyat melambung, hanyut dibuai harap? Apakah mereka lupa, mereka tidak ingat, meraka ingat tapi pura-pura tak ingat, atau mereka sengaja melupakannya? Entahlah....karena yang pasti kecewa ya pastilah rakyat, dan mereka yang tlah berhasil merebut kursi kekuasaan dari tangan rakyat itu pastilah hidupnya sudah sangat bahagia.
                           Kekecewaan rakyat tidak sampai di situ saja, mereka yang memiliki kekuasaan tidak puas dengan apa yang telah mereka miliki, namun sesuatu yang seharusnya menjadi hak milik rakyatpun masih saja mereka rampas. Jika sudah ketahuan, tak seorangpun yang mau mengaku. Semua belagak suci, semua mengaku benar dan sedikitpun tak mau disalahkan. Korupsi jutaan, milyaran, bahkan triliyunan rupiah seakan menjadi budaya para penguasa di negeri ini. Jika terbukti, maka mulailah mereka kembali hendak mencuri simpati rakyat, berawal dengan permintaan maaf yang sebesar-sebesarnya atas kekhilafan yang dilakukan. Karena fitrah manusia yang tak pernah luput dari salah dan dosa. Fitrah manusia yang tak pernah merasa puas, maka mereka kembali berhasil meraih simpati rakyat.
                           Saat ini para penguasa seakan menyulap Dunia Perpolitikan menjadi Kanca Dusta, tempat bernaungnya Kebohongan. Selalu ada cela untuk kecurangan, mulai dari berbagai bentuk kasus suap, pengadaan Al-quran, dan masih banyak kasus korupsi lain yang dilakukan para penguasa Negeri. Kita sebagai rakyat, jika kejadian ini tak ingin lagi terulang, maka kita sudah seharusnya menjadi sedikit lebih cerdas. Jangan lagi mau di buai dengan janji jika tidak terbukti, lihatlah sesuatu itu dari sudut kebenaran dan kejujuran. Kita harus mampu memilih yang terbaik. Jangan terlena dengan kesenangan sesaat, fikirkanlah masa depan bangsa kita kedepan. Nilailah segala sesuatu dengan hati nurani, jangan biarkan lagi dunia perpolitikan kita menjadi Kanca Dusta bagi mereka penguasa yang hanya menggilai dunia. Carilah pemimpin yang dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan yang telah kita berikan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Pemimpin yang takut akan salah, pemimpin yang tak ingkar janji dan pemimpin yang peduli.


Sumber : Mba Era Susanti Blog

Kendaraan RI 1 ala Bapak Jokowi

Mobil kepresidenan ala Joko Widodo menarik ditelisik. Daya jelajah tinggi dan komitmen untuk mengabdikan sebagian besar waktu di lapangan tentu harus ditunjang dengan tunggangan berkualitas.

Lantas, apa pilihan mobil kepresidenan Joko Widodo? Calon presiden yang telah ditetapkan sebagai pemenang pemilu dengan meraih 53,15 persen suara itu tidak mau ambil pusing soal mobil apa yang nanti bakal digunakannya bertugas sebagai orang nomor satu di Indonesia.

"Gampanglah. Saya disuruh naik apa saja bisa kok," ujar Jokowi pada wartawan CopasOnline di rumah pribadi di Jalan Kutai Utara, Solo, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Jokowi sendiri belum mengetahui mobil jenis apa yang akan diberikan jika nanti resmi menjadi presiden. Sepengetahuannya, mobil kepresidenan terdiri dari beberapa mobil. Dia tinggal memilih sesuai kebutuhan.

"Kan mesti kendaraannya apa-apa saja. Masa hanya satu, dua, tiga. Mestinya banyak. Meski saya belum tahu, saya bisa pakai semua," ucap Jokowi.

Kijang jadi mobil RI-1?



Jenis mobil apa pun yang bakal ditunggangi Jokowi akan menarik perhatian. Mengingat, ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta, mobil dinas Toyota Land Cruiser ditolaknya. Jokowi lebih memilih Toyota Innova.

Majalah Auto Bild Indonesia edisi 294 dengan apik mengulas apa Jokowi kembali memilih Kijang sebagai mobil dinas presiden. Menurut sumber artikel itu, harus ada perubahan signifikan jika hal itu benar-benar terjadi.

Pertama, Innova diberikan pelindung khusus. Rangka dan bodi mobil harus di-reinforce ulang agar mampu menopang komponen pelindung. Material pelat bodi luar pun juga mesti disesuaikan agar tahan akan senjata.






Pertama, Innova diberikan pelindung khusus. Rangka dan bodi mobil harus di-reinforce ulang agar mampu menopang komponen pelindung. Material pelat bodi luar pun juga mesti disesuaikan agar tahan akan senjata.

Selain reinforce bodi, seluruh kaca juga harus diperkuat. Kaca bisa dikombinasikan dua atau lebih jenis kaca yang keras atau lunak. Jenis kaca lunak membuat kaca elastis saat terkena tumbukan dari luar sehingga sulit pecah.
 

Kaca Anti peluru


ga lucu banget kalo mobil Kepresidenan di berondong kek gini


Demikian juga dengan ban. Ban mobil Kijang yang digunakan presiden harus sesuai dengan standar, yakni menggunakan sistem run flat tyre. Ban juga bisa diperkuat dengan kevlar dan penguat pelat baja.



Ban sistem run flat tyre dan di perkuat dengan kevlar



Terakhir, meng-upgrade mesin agar jauh lebih bertenaga.

Mesin dengan kekuatan 4.000 cc VVTI

Misalnya mengganti mesin dengan unit 4.000 cc V6 VVT-i yang menghasilkan tenaga lebih besar dari Toyota Fortuner yang biasa diekspor ke kawasan Timur Tengah.


Ini kendaraan Paspampres

Signature by           
                      DAENG LIRA

Radio Anti Jamming Militer

PT LEN MENCIPTAKAN RADIO KOMUNIKASI BUAT MILITER


“TES… satu, dua, tiga… satu, dua, tiga… dikopi,” ucap Sri Yuniardi, peneliti alat komunikasi militer dari PT LEN Industri. Ia tengah mempraktikkan bagaimana cara kerja produk inovasi Manpack Alkom FISCOR-100. Alat komunikasi militer buatan PT LEN Industri (Persero) itu merupakan salah satu inovasi unggulan PT LEN yang pernah memperoleh penghargaan Anugerah Rintisan Teknologi Industri 2009 dari pemerintah. Manpack Alkom FISCOR-100 dikembangkan sejak 2001 oleh PT LEN Industri. Nama ‘100’ diambil dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-100 pada 2008. Tujuannya untuk membangkitkan industri berbasis teknologi dalam negeri.
Bermula dari keinginan TNI untuk mengembangkan dan memproduksi alat komunikasi militer buatan dalam negeri. Pada periode 2001-2003, Puslitbang TNI bekerja sama dengan PT LEN Industri dalam program RUK Kementerian Riset dan Teknologi untuk mengembangkan alat komunikasi radio antisadap dan anti-jamming.
Alat komunikasi militer memiliki fungsi sangat strategis karena membantu keberhasilan operasi militer dan membantu komunikasi pasukan yang berada di lapangan dengan unit-unit lainnya di tempat berbeda. Hasilnya? Para periset PT LEN Industri berhasil menciptakan prototipe alat komunikasi VHF FH dengan kecepatan hopping 1 hope/sec. Kemudian pada 2007 PT LEN Industri berhasil melakukan rancang bangun mandiri alat komunikasi Manpack HF Spread Spectrum Frequency Hopping, dengan kecepatan hopping 5 hope/sec. Alat tersebut terus disempurnakan hingga 2008 agar kecepatan hopping bisa mencapai 5, 10, 20, dan 50 hope/sec dan random hop speed yang tidak dimiliki alat komunikasi militer lainnya.
Antisadap
Di kelas HF inilah alat komunikasi FISCOR-100 menjadi yang tercepat. Manpack Alkom FISCOR-100 beroperasi pada rentang frekuensi 2 Mhz hingga 3 Mhz dengan 256 channel, dan kebutuhan pasokan tenaga 12 Vdc-24 Vdc. Peralatan ini bisa digunakan untuk komunikasi pada level peleton hingga batalion.
Menurut Sri Yuniardi, alat komunikasi militer berupa radio memang harus bebas jamming dan tidak bisa disadap. Karena itu, frekuensi yang diambil ialah frekuensi yang tidak dipakai. “Radio militer bekerja di trek 2 Mhz sampai 3 Mhz. Bisa juga sekelas 7 Mhz. Di dunia militer, para ahli frekuensi radio akan mengambil gelombang radio yang kosong. Ini bedanya dengan radio komersial. Setiap kali on air, radio komersial akan didengar banyak orang, sedangkan di militer tidak,” terangnya. Frekuensi radio ini menjadi jantung pada alat komunikasi FISCOR-100.
Dua perusahaan asing dari Australia dan Prancis pernah bekerja sama dengan PT LEN Industri untuk pengembangan alat komunikasi militer ini. Namun, kemudian PT LEN Industri mengembangkan alat komunikasi sendiri dengan mengombinasikan keunggulan teknologi alat komunikasi produksi kedua negara mitra tersebut.
Para periset banyak belajar dari pengalaman kedua negera dalam mengembangkan alat komunikasi militer. “Kami belajar membuat alat-alat komunikasi militer dengan Q-Mac Australia dan Thales Prancis. Thales merupakan industri komunikasi terbesar di dunia saat ini. Dan yang paling rumit ialah masalah frekuensi. Ahli frekuensi di Indonesia minim. Mau tidak mau, kita semua harus belajar masalah frekuensi dan enkripsi,” ungkap Yuniardi.
Dengan kombinasi ini tentunya produk PT LEN Industri jauh lebih unggul. Teknologi tersebut memiliki kandungan lokal 85%, sedangkan untuk komponen handset, elektronik, dan konektor masih diimpor. Komponen dalam negeri dengan sistem komunikasi yang dirancang secara khusus sangat menguntungkan bagi TNI. Sebab, sistem komunikasi buatan luar negeri belum tentu aman karena akan dirancang untuk kepentingan negara pembuat. Untuk itu, sistem keamanan dalam komunikasi dirancang khusus dan hanya pemakaianya yang tahu. Alat tersebut bisa didesain sesuai keinginan.
Pembuktian antisadap ini diperlihatkan saat uji coba. Ketika alat tersebut dipakai berkomunikasi, di frekuensi biasa hanya terdengar suara gelombang radio tanpa ada suara. Kadang bunyinya agak bising, tapi tanpa ada yang bercakap-cakap. Padahal di balik itu sedang terjadi komunikasi antarpemakai. Hal tersebut menunjukkan alat komunikasi itu telah dilengkapi comsee sehingga tidak muncul percakapan di udara layaknya penyiar radio. Suara yang keluar dari percakapan antarpihak di lapangan telah dienkripsi sehingga mempersulit orang atau pihak musuh melakukan penyadapan.
“Intinya suara dikacaukan,” ujar Yuniardi. Sebetulnya komunikasi bisa bocor ke sipil atau pihak musuh apabila kunci frekuensinya sama. Untuk mencegah kebocoran informasi, perlindungan atau keamanan komunikasi harus ditangani oleh tiap negara. Termasuk saluran telepon presiden, lembaga-lembaga strategis, dan agen rahasia di negara-negara maju telah dienkripsi dengan kode-kode khusus. Oleh karena itu, bila produk komunikasi militer masih mengandalkan impor, dikhawatirkan rahasia negara bisa bocor ke negara lain lewat penyadapan alat komunikasi.
Uji coba alat komunikasi tersebut sudah dilakukan dari Bandung ke Surabaya dengan jarak 400 km. Dalam uji coba itu terbukti radio komunikasi militer ini aman dari penyadapan dan jamming. Kecanggihan alat tersebut diganjar penghargaan Upakarti, Desain Terbaik, dan Kreasi Prima. Peralatan berbentuk kotak berwarna hijau tentara ini memiliki berat 5 kg dengan baterai yang tahan dipasang selama 24 jam. Baterai yang dipakai bisa diisi ulang dengan memakai energi solar cell. Satu amphere solar cell bisa mengisi baterai selama 1 jam.PT LEN Industri kini sedang melakukan perbaikan- perbaikan, terutama untuk berat radio dan antene. Menurut Yuniardi, saat ini bobot radio masih terlalu berat. “Kalau bisa, di bawah 5 kg, yakni dengan cara mengurangi konsumsi daya baterai. Kemudian antenanya juga kurang efisien.” Antena HF yang menggunakan frekuensi rendah membutuhkan antena panjang untuk bisa menerima frekuensi yang bagus. PT LEN Industri saat ini sedang mengembangkan Manpack FISCOR-100 dari sistem analog menuju digital. Risetnya sudah dimulai sekarang ini.



Signature by           
                      DAENG LIRA